Tampilkan postingan dengan label Pidato/Ceramah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pidato/Ceramah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Desember 2014

Menuntut Ilmu_Syafri


PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN
BAGI GENERASI MUDA UMAT ISLAM
By : M. Syafri Jaya
Kelas : IX

Bismillahi Rahmani Rahim
Assalamu Alaikum Wr Wb
Saudara seislam yang dirahmati oleh Allah SWT
Semoga Allah yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan, memiliki ilmu pengetahuan, memberikan kita hati yang sangat cinta akan ilmu. Sehingga kita mudah memahaminya, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada saudara semusliim dan muslimat. Karena sesungguhnya sebaik baiknya manusia adalah manusia yang paling banyak memiliki manfaat diantara manusia manusia lainyya. Itulah manusia yang paling bermanfaat. Sehingga pada detik ini saya ingin mengajak para hadirin untuk bermunajat rasa syukur kita dan puji kita kepada Allah SWT, atau dua nikmat besar yang insya Allah selalu dikaruniakan kepada setiap umat muslim berupa nikmat islam dan nikmat iman. Yang di mana kedua nikmat tersebut adalah nikmat terbesar yang harus selalu kita syukuri. Saat kedua nikmat tersebut telah tiada dalam setiap muslim, maka sirnalah semua harapan untuk menikmati surga Allah yang kekal abadi, dan pastinya satu satunya jalan yang dituju adalah pintu neraka yang kekal abadi di dalamnnya sebagai mahkluk hina dan tercela.
Dan tak lupa kita memanjatkan shalwat dan tahlim kepada sesosok manusia pilihan Allah SWT sebagai khalifah tertinggi umat manusia, sesosok manusia yang telah menjadi pemimpi, suri tauladan yang patut kita contoh, ialah Rasulullah SAW. Allahumma salli ala Muhammad. Yang telah membawa agama Islam ditengah tengah piluknya kehidupan jahilia umat manusia, dan membawanya ke zaman yang penuh cahaya hingga membawa kita kepuncak tertinggi derajat manusia sebagai mahkluk ciptaan tuhan yang paling sempurna di antara mahkluk ciptaan lainnya.

Saudara seislam yang dirahmati oleh Allah SWT
Tidak lupa saya berterima kasih kepada ibunda Erna Mardiana, S.Hum selaku guru pembimbing dan pembina di SMA Nurmilad Boarding School, beserta teman teman seperjuangan sekalia, ijinkanlah saya untuk mengambil suatu tema bahasan dalam Da’wah saya yaitu Pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Bagi Generasi Muda Umat Islam.

Saudara seislam yang dirahmati oleh Allah SWT
Untuk melakukan satu hal,maka wajib dengan ilmu. Untuk melakukan banyak hal, maka wajib dengan banyak ilmu. Untuk melakukan banyak hal dengan baik dan benar wajib dengan banyak ilmu. Tidak mengatakan boleh, atau mungkin. Karena hal ini adalah suatu yang mutlak adanya. Artinya orang yang tak memiliki banyak ilmu akan terkucilkan dari kehidupan, dan merasa kehidupan ini sempit, ya.. karena tidak memilik ilmunya. Jelas sekali dalam konsep islam.
Man arada dunya, fa’alaihi bil ilmi. Barang siapa ingin dunia wajib dengan ilmu. Ingat saudara seislam wajib dengan ilmu.
Mman aradal Akhirah, fa’alaihi bil ilmi. Barang siapa ingin akhirat, wajib dengan ilmu.
Wa man Arada huma, fa’alaihi bil ilmi. Dan barang siapa ingin keduanya, WAJIB dengan ILMU.
Islam tidak berkata, kaya, akan tetapi Ilmu, tidak berkata, kaya... sama sekali tidak, akan tetapi WAJIB dengan ILMU. Artinya orang yang tak berilmu, dunia tidak ia peroleh, akhiratpun tidak ia dapatkan. Masya Allah. Itulah orang orang yang paling dilaknat Allah, dunia tidak ia peroleh, akhiratpun tidak ia dapatkan. Itulah orang orang yang paling merugi dalam hidupnya, di dunia tidak bahagia, di akhirat pun sengsara. Naudzu billahi min dzalik.

Saudara seislam yang dirahmati oleh Allah SWT
Itulah islam sebenarnya. Islam bukan hanya menginginkan anda fakum to’ pada satu hal dan tidak pernah ada keinginan sedikit pun untuk mengetahui besarnya nikmat yang Allah berikan di dalam setiap jengkal kehidupan kita. Islam sejatinya adalah agama yang menyeru kepada umatnya untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayatnya, islam tidak menyuruh anda untuk duduk berbicara sesuatu yang tidak jelas datangnya dari mana, dan akan dikemanakan pembicaraan itu. Islam adalah agama yang menuntut umatnya untuk menuntut ilmu sepanjang masa.
Sebagaimana dalam sabda nabi yang berbunyi :
Utlubul ilmi minal Mahdi ilal Lahdi. Artinya tuntulah ilmu mulai dari kandungan hingga ke liang lahap.
Saudara seislam. bahkan mulai dari dalam kandungan sampai matipun, kita masih dituntut untuk menuntut ilmu, karena sakin pentingnya menuntut ilmu .
                Di hadis lain, Rasulullah SAW bersabda :
                Talabul ilmi faridatun ala kulli muslimin wal muslimat, Artinya menuntut ilmu wajib hukumnya bagi kaum laki laki maupun perempuan.
                Di dalam Al Qur’an Al Karim, Allah SWT berfirman dalam potongan surah Al Mujadalah Ayat 11 : Yang berbunyi :
Yarfa’illahu ladzina amanu mingkum, walladzina utul ilma darojat.
Artinya: niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Saudara seislam, tuhanpun berkata orang orang beriman dan berilmu pengetahuan. Sama sakali tidak berkata wajah, kekayaan, kedudukan dan keturunan. Sama sekali tidak ! Hanya ada dua kata kunci yang disampaikan Allah dalam surah Al Mujadalah ayat 11 tadi.  Saya pertegas bahwa orang orang beriman dan berilmu pengetahuanlah yang akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

Saudara seislam yang dirahmati oleh Allah SWT
Kembali ke kehidupan kita, mengapa sebenarnya negarakita Indonesia masih tetap memiliki banyak masalah yang tak bisa terselesaikan dan hutang yang menumpuk ??? Ya, jawabannya hanya ada satu, karena masyarakatnya masih kurang ilmu. Mengapa sebenarnya banyak sarjana profinsi profinsi kita yang tidak memiliki modal, tidak memiliki pekerjaan alias menganggur ?? Karena kita kurang ilmu. Mengapa sebenarnya kabupaten kita, kecamatan, desa, dusun sekalipun masih tetap saja memiliki masalah yang sampai sekarang tidak terselesaikan, Jawabannya karena KURANG ILMU.
Kita sering melihat ada banyak orang tua yang tidak menikmati masa tuanya, mengapa ?? ya karena kurang ilmu. Perkembangan atau pertambahan umur yang terjadi tidak sesuai dengan pertambahan ilmu, maka yang ada adalah masa tua yang tidak dinikmati. Itulah pentingnya yang dinamakan ilmu.

Saudara seislam yang dirahmati oleh Allah SWT
Sebelum saya menutup da’wah ini, sebagai kesimpulan marilah kita menjadikan menuntut ilmu sebagai prioritas utama dalam kehidupan kita. Marilah kita menuntut ilmu tanpa mengenang waktu maupun tempat, katena dengan ilmu kita bisa menggenggam dunia ini. Dengan ilmu maka anda, saya dan kita semua dapat menjadi orang yang beruntung didunia maupun di akhirat kelak amin.

Saudara seislam yang dirahmati oleh Allah SWT
Sekian yang sempat saya sampaikan, lebih dan kurangnya mohon di maafkan.
Akhirul kalam,
Assalamu Alaikum Wr. Wb

Minggu, 03 November 2013

Kesiapan Santri Dalam Menghadapi Krisis Global Dan Moral


مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَالِكَ
اَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka cegahlah dengan tangannya (kekuasaan), apabila tidak mampu maka dengan lidahnya, apabila tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.”


If any of you guys see misguidance, then forbid the hand (power), if unable, then with his tongue, if unable then with his heart, and it is very-weak faith

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


                Sebelum berbicara tentang krisis global, tahu tidak sebenarnya apakah yang terjadi di dunia kita sekarang? Dan bagaimanakah santri mempersiapkan diri untuk mengatasi krisis global.

Hadirin Hadirat yang dimuliakan Allah SWT

                Beratus tahun yang lalu jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, lembaga pendidikan Islam yang ada adalah pesantren yang memusatkan kegiatannya untuk mendidik siswanya mendalami ilmu agama. Tetapi apa yang terjadi ketika pemerintah Belanda datang?  Ketika pemerintah penjajah Belanda membutuhkan tenaga terampil untuk membantu administrasi pemerintah jajahannya di Indonesia, maka diperkenalkanlah jenis pendidikan yang  beroritentasi pekerjaan. 

Untuk itu, pemerintah lalu memperluas pendidikan model barat yang dikenal dengan sekolah umum itu. Untuk mengimbangi kemajuan zaman itu, di kalangan ummat Islam santri timbul keinginan untuk mempermodern lembaga pendidikan mereka dengan mendirikan madrasah.
               
                 Apabila kualitas pendidikan santri bagus, maka, insya Allah, mereka akan menjadi orang yang berkualitas dan akan memainkan peran penting sebagai pemimpin ummat, masyarakat, dan bangsa.  Sebaliknya, apabila kualitas pendidikan yang mereka peroleh di pesantren tidak bagus, maka kemungkinan mereka untuk berperan dalam percaturan bangsa akan menjadi amat kecil.
Salah-salah, mereka akan menjadi bagian problem masyarakat dan bukan bagian penyelesaian problem masyarakat.

Persoalan ini menjadi makin serius apabila dikaitkan dengan isu besar akhir-akhir ini, yakni globalisasi.  Kalau banyak orang mengatakan bahwa bangsa Indonesia belum siap untuk memasuki era globalisasi, maka lulusan pesantren dikhawatirkan lebih tidak siap lagi menghadapi era globalisasi ini.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
               
Globalisasi adalah suatu proses proses mendunia akibat kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang telekomunikasi dan transportasi.   Bahkan dunia ini bisa kita buat sebesar kelor. Globalisasi mengakibatkan orang tidak lagi memandang dirinya sebagai hanya warga suatu negara, melainkan juga sebagai warga masyarakat dunia.  Ia tidak lagi menganggap benar nilai-nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat kampung, kota, propinsi, atau bangsan
ya, melainkan mulai membandingkannya dengan nilai-nilai yang dia pelajari dari bangsa lain.  Contoh rakyat Indonesia yang berwawasan global dapat berkomunikasi dengan orang asing tanpa mempersoalkan jarak dan waktu.

Terus bagaimanakah peluang dan ancaman globalisasi terhadap negara kita?

Globalisasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kepentingan bangsa dan ummat kita.  Dampak positif, misalnya, makin mudahnya kita memperoleh informasi dari luar sehingga dapat membantu kita menemukan alternatif-alternatif baru dalam usaha memecahkan masalah yang kita hadapi.  (Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan banyak dana seperti dulu.  Demikian pula, dalam hal tenaga kerja, dana, maupun barang).  Di bidang ekonomi, perdagangan bebas antar negara berarti makin terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga kerja).

Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut.  Misalnya, budaya perselingkuhan yang dibawa oleh film-film Italy melalui TV, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat jaringan internet, majalah, atau CD ROM, masuknya faham-faham politik yang berbeda dari faham politik yang kita anut, dsb.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Allah mengatakan dalam surah Thaahaa ayat 72 yang menerangkan :



Menghindari globalisasi sebagai proses alami ataupun menghilangkan sama sekali dampak negatif globalisasi itu barangkali tidak mungkin.  Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita harus menghadapi globalisasi ini dan menerima segala dampaknya, negatif maupun positif.  Kita juga harus memutuskan dan memilih serta menyaring dampak positif dan negatifnya.
Seperti yang digambarkan oleh Allah SWT dalam surah Thaahaa ayat 72:

الدُّنْيَا الْحَيَاةَ هَذِهِ تَقْضِي إِنَّم
Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.

Oleh karena itu, tantangan yang kita hadapi sebagai kelompok elit ummat adalah: Bagaimana kita dapat memanfaatkan semaksimal mungkin dampak positif (peluang) globalisasi itu dan meminimalkan dampak negatif (ancaman) nya?  Kalau pertanyaan itu diarahkan kepada kita para pengelola lembaga pendidikan Islam ini, maka pertanyaan itu akan menjadi: Bagaimana lembaga pendidikan kita dapat menyiapkan santri yang akan bisa survive dalam era globalisasi ini, tetap dapat memainkan peranan penting dalam kehidupan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslim Indonesia.

Karena pendidikan adalah “usaha sadar suatu bangsa untuk membentuk generasi mudanya agar menjadi manusia sesuai yang dia idam-idamkan”, maka tantangan yang dihadapkan oleh globalisasi kepada pendidikan nasional adalah: mampukah pendidikan nasional menghasilkan santri yang berkualitas sehingga mampu memenangkan persaingan antar bangsa (atau setidaknya survive) dalam era globalisasi itu?

Bagaimanakah sebenarnya kesiapan santri dalam mengatasi krisis global?

Dalam konteks persiapan santri menghadapi perubahan zaman akibat globalisasi ini pun madrasah (lembaga pendidikan Islam) memiliki peran yang amat penting.  Keberhasilan pesantren dalam menyiapkan anak didik menghadapi tantangan masa depan yang lebih kompleks akan menghasilkan lulusan yang akan menjadi pemimpin ummat, pemimpin masyarakat, dan pemimpin bangsa yang ikut menentukan arah perkembangan bangsa ini.  Sebaliknya, kegagalan madrasah dalam menyiapkan anak didik menghadapi tantangan masa depan akan menghasilkan lulusan-lulusan yang frustrasi, tersisih, dan menjadi beban masyarakat.  Naudzubillahi min dzalik.

Maka dari peran pesantren Agar lulusan madrasah memiliki wawasan global, yang memandang bahwa seluruh muka bumi milik Allah ini adalah tempat mengabdi, maka madrasah pun harus memiliki wawasan global.  Bagaimana mungkin madrasah yang tidak memiliki wawasan global dapat menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan global?  pesantren  harus mempersiapkan santrinya  agar dapat melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri.  Untuk ini, maka penguasaan ketrampilan berbahasa asing (terutama Arab dan Inggris) menjadi amat penting.  Demikian pula pengenalan budaya dan bangsa asing, Selain itu santri harus meningkatkan iman dan taqwa agar tidak tergilas oleh budaya-budaya dari luar yang bertentangan dengan karakter bangsa kita.

Sekianlah pidato dari saya, mudah-mudahan kita dapat mersiapkan diri kita menghadapi krisis global, mohon maaf apabila terdapat kesalahan pada pidato saya

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.