Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Sultan dan Sufi



Alkisah, seorang Sultan sedang berparade di jalan-jalan utama kota Istanbul, dengan dikelilingi para pengawal dan tentaranya. Seluruh penduduk kota datang untuk melihat sang Sultan. Semua orang memberikan hormat ketika Sultan lewat, kecuali seorang darwis yang amat sederhana.

            Sang Sultan segera menghentikan paradenya dan menyuruh tentaranya untuk membawa darwis itu menghadap. Ia menuntut penjelasan mengapa darwis itu tak memberikan penghormatan kepadanya ketika ia lewat.

            Darwis itu menjawab, "Biarlah semua orang ini menghormat kepadamu. Mereka semua menginginkan apa yang ada padamu; harta, kedudukan, dan kekuasaan. Alhamdulillah, segala hal ini tak berarti bagiku. Lagipula, untuk apa saya menghormat kepadamu apabila saya punya dua budak yang merupakan tuan-tuanmu?"

            Semua orang di sekelilingnya ternganga. Wajah sang Sultan memerah karena marah. "Apa maksudmu?" bentaknya.

            "Kedua budakku yang menjadi tuanmu adalah amarah dan ketamakan," ujar darwis itu tenang seraya menatap kembali kedua mata Sultan. Sultan itu pun tersadar akan kebenaran ucapan orang itu dan ia balik menghormat sang darwis.

Sumber: The Illustrated Rumi; A Treasury of Wisdom from The Poet of Soul, Harper Collins, New York, 2000. dan Cinta Bagai Anggur, Uraian Hikmah Seorang Guru Sufi di Amerika, karya Syaikh Muzaffer Ozak.

Titanic


Fikri Yathir

<<To make the long story short,>> sebuah kapal besar dan megah bertolak meninggalkan Inggris menuju Amerika. “Fundamental” kapal itu diyakini begitu kuat sehingga orang-orang berkata: Titanic tidak mungkin tenggelam. Bahkan Tuhan pun tidak akan bisa menenggelamkannya. Apalagi nakhoda yang mengemudikannya sudah sangat senior, baik dari segi pengalaman maupun usia. Rambut dan cambangnya yang sudah memutih memancarkan wibawa.
Ada dua macam penumpang: orang kaya dan orang miskin. Tentu saja orang kaya menghuni bagian atas kapal dengan fasilitas yang serba wah. Orang miskin tinggal di kamar-kamar sempit, di bagian bawah. Tetapi, karena penampilan Titanic dan nakhodanya, semua penumpang masuk dengan optimisme yang tinggi. Mereka akan sampai pada negeri impian dengan cepat dan menyenangkan. Nakhoda malah didesak untuk menaikkan kecepatan kapal, supaya tiba di Amerika jauh lebih awal dari waktu yang diperkirakan.
Sepanjang jalan para penumpang bersenang-senang. Untuk setiap kelas penumpang ada kelompok musiknya. Tidak henti-hentinya lagu-lagu ria dan tawa-canda bergema di kapal. Tiba-tiba kapal berhadapan dengan karang es yang menjulang tinggi. Dengan terburu-buru, nakhoda mengalihkan arah. Sayang, kapal besar itu bergesekan dengan bukit es. Di sana sini mulai terjadi kebocoran besar. Orang pintar sudah memastikan kapal pasti tenggelam.
Celakanya, jumlah sekoci penyelamat tidak memadai. Nakhoda memutuskan, yang pertama kali diselamatkan adalah penumpang kelas satu. Seorang konglomerat mencoba masuk ke sekoci dengan menyuap kru kapal. Air mula-mula memasuki kapal bagian bawah, menenggelamkan orang-orang miskin. Mereka yang berusaha naik ke atas harus kecewa karena pintu-pintu sudah terkunci. Demi menyelamatkan penumpang kelas satu, orang-orang miskin harus menunggu.

Kamis, 29 Januari 2015

"LINGKAN" In English


Cerita Rakyat dari Sulawesi Utara
Long time, in Minahasa, there was a very pretty girl. Lingkan, so the name of the girl. He was a friendly, good-natured, and not overbearing. The youths wanted to be his wife. Parents want to make it as law.
Once the news broke that the King will come to Minahasa Mongondow. He came with his men. They took jewelry, gold, jewels, and other valuables. Hearing that, the Minahasa instantly Lingkan very worrying. They feared the King would take it. To avoid that from happening, parents and hid Lingkan Lingkan in the woods, on top of a large tree on the river bank. To eat the girl, they provide food cooked in bamboo.
The king and his entourage arrived in Minahasa. After a few days in the area that they were back to Mongondow. On the way, they rest on the banks of the river.
Suddenly the king saw a body floating in the river. Commanded his men took it. That thing is a bamboo tube and cooked rice leaf scars. King also argues that there must be some hick river inhabitants. He then ordered his men to investigate where these objects came from.
The king's men quickly down the river. They meet an old man sitting under a big tree. The man's father was defending Lingkan Lingkan. The king's men then saw a very pretty girl sitting on a tree. Quickly they went to the king and reported them what they have encountered.
The king was very pleased to hear the report. He said, "Bring her to me! Tell him I'll meet him anything he asked for as long as he wants to be my wife! "
The king's men meet Lingkan and convey what the king said to them on the girl. Lingkan not want. Persuaded the king's men. Finally Lingkan be brought before the King. Full of joy, the King welcomed the pretty girl.
They then went on. However, every time you cross a river Lingkan stop. He did not want to continue the journey. He was going to continue after his wish fulfilled King. Finally, all the goods are taken out given Lingkan King.
They almost got Mongondow. One more should they cross the river to get there. Lingkan stop and ask for something. Raja confused. He said, "Lingkan, goods that I brought had expired give you. Let us continue the journey. Later, after we got to the palace, what you're asking for sure I give. "
"I wanted to present it now!" Said Lingkan. "If not, I will not be brought to Mongondow!"
"But what should I give?"
"HMH," said Lingkan smile, "I want all the land north of this river for me!"
The king was silent. When he meets Lingkan desire, it means it releases its remit area located on the north river. If it does not meet the wishes Lingkan, meaning he failed to marry a very pretty girl. King finally feel heavy to release Lingkan. He said, "Well fulfill your wish!"
The river was used as a border Mongondow and Minahasa and named Posigadan which means border. Now the area has been renamed S8ungai Poigar.

Cerpen : Sangidu


Karya Prabantara Kesawamurti

Ketika berjabat tangan, digenggamnya jemariku erat-erat. Kedua matanya menatapku ramah.Disebutnya namanya dengan mantap, "Sangidu!"

"Anwar," aku pun menyebut namaku.

"Lengkapnya?"Rupanya dia kurang puas.

"Anwar Haryono!"

"Kuliahnya?" tanyanya lagi seperti polisi menginterogasi. Kusebutkan nama tempat aku menuntut ilmu.

"Oooo…yang fakultasnya di sebelah selatan Selokan Mataram, kan?"

Aku mengangguk mengiyakan.

Dari ceritanya aku tahu bahwa ia menempati kamar sebelah yang sewaktu kutinggal pulang berlibur masih kosong. Kamarnya cuma dibatasi tembok dengan kamarku. Sehingga kalau ia membunyikan radio untuk mendengarkan acara pilihan pendengar kegemarannya, aku pun terpaksa mendengarnya.

Mas Ngidu, demikian ia minta agar aku memanggilnya begitu, sangat memperhatikan diriku. Apabila pukul empat sore belum mandi, aku diperingatkannya agar segera mandi.Sebab jika terbiasa mandi terlalu sore, orang bisa sakit reumatik.Demikian katanya.

"Kita harus selalu menjaga kebersihan kesehatan, Dik Anwar.Makan dan minum pun harus teratur.Apalagi Dik Anwar masih kuliah.Jadi, harus selalu makan makanan yang bergizi.Supaya cepat jadi insinyur.Jangan seperti diriku," Mas Ngidu menasihatiku banyak-banyak.

Pandang mata Mas Ngidu lurus ke depan. Seperti ada duka yang tertimbun di dalamnya.

"Maksud Mas Ngidu?" aku bertanya.

Aku, hmmmm…dulu pernah kuliah di Fakultas Kedokteran.Tapi, cuma tiga tahun karena tak ada lagi biaya.Jangankan untuk biaya kuliah, untuk makan pun sulit."

Kenapa bisa begitu?"

Mas Ngidu memandang sekeliling, kemudian berkata pelan."Ayahku gila judi.Sawah ladang sampai habis dijualnya."

"Oh," aku tertegun.

"Begitulah, Dik Anwar." Mas Mgidu membetulkan letak duduknya.Kemudian berkata, "Tetapi aku tidak putus asa.Aku laki-laki yang pantang menyerah.Meskipun sekarang aku cuma bekerja di laboratorium rumah sakit, tapi aku cukup puas. Ketahuilah, Dik, aku pegawai laboratorium yang terpercaya. Profesor Umbar, orang yang paling disegani oleh dokter-dokter di rumah sakitku juga sangat memercayaiku."

Aku mengangguk –angguk.

"Apalagi calon-calon dokter yang masih muda itu.Mereka banyak bertanya kepadaku!"

Belum selesai kami berbincang-bincang, datang seorang gadis cantik dengan senyum kelopak mawar di bibirnya.Aku sempat tertegun sejenak, kemudian menyambutnya.

"Kenalkan Mas Ngidu. Ini Diah! Diah Permata Purnamasari , mahasiswi Fakultas Ekonomi," kataku sambil membimbing Diah mendekati Mas Ngidu.

"Pacarmu, Dik Anwar? Namanya cantik sekali, secantik orangnya."Mas Ngidu mengulurkan tangan dan Diah segera menyambutnya.

Aku dan Diah cuma tersenyum.

Saat itu percakapan dengan Mas Ngidu terputus karena Diah minta diantar ke Gramedia.Mencari buku.

Suatu siang sepulang kuliah aku langsung tidur.Perut sudah kuisi gado-gado dan es jeruk di kafetaria fakultas.Kuliah dari Profesor Sudarsono memang cepat membuat lapar.Entah berapa lama terlelap, ketika terjaga Mas Ngidu sudah duduk di sampingku.

"Bangun, Dik Anwar, sudah sore! Ayo cepat mandi!!"

Masih enggan rasanya.Namun, karena tak ingin menyinggung perasaan Mas Ngidu, aku pun segera mandi.Mas Ngidu tentu tersinggung bila aku tidak segera mandi.Dua bulan bergaul dengannya, aku pun lantas cukup kenal tabiatnya.

Mas Ngidu masih membaca koran di kamarku ketika aku selesai mandi.

"Dik Anwar," katanya sambil meletakkan koran.

"Ya, Mas."

"Aku ingin bicara serius denganmu."

"Mengenai apa?" tanyaku sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

"Selama ini Dik Anwar sudah kuanggap sebagai adik kandung sendiri, meskipun sebenarnya kita cuma kebetulan bersama-sama menyewa kamar di tempat ini."

Aku diam dan masih belum mengetahui tujuan kata-katanya.

"Terus terang, Dik, aku tak ingin kuliahmu gagal.Pengalaman pahitku tak perlu kau ulang lagi."

"Lantas," aku bertanya sambil mengenakan pakaian.

"Dik Anwar. Aku tahu, Diah memang gadis yang cantik. Tapi, sebagai orang yang sudah cukup umur, aku dapat menduga bahwa ia hanya cantik di luarnya saja. Hatinya belum tentu baik.Ini sangat berbahaya.Padahal hubunganmu kurasa sudah terlalu intim."

Aku mulai tak senang mendengar kata-kata Mas Ngidu.

"Lebih baik kau putuskan saja hubunganmu dengannya. Ini demi masa depanmu! Nanti setelah kau diwisuda menjadi sarjana, dengan mudah kau akan memeroleh gadis yang segalanya lebih daripada Diah. Daaaan…"

"Permisi dulu, Mas," cepat aku memotong kotbahnya.

"Lo, mau ke mana?"

"Praktikum," jawabku sekenanya.

"Sore-sore begini?" Mas Ngidu terhenyak.

Tanpa menjawab pertanyaannya, segera aku pergi.Semakin lama bosan juga mendengar kata-katanya. Mas Ngidu terlalu ikut campur urusan orang lain. Itulah yang membuatku paling tak suka.Apalagi sampai menyuruh memutuskan hubungan dengan Diah?Hmmm.

Jika Mas Ngidu ke kamarku, selalu saja ada yang dibicarakannya.Menceritakan kehebatan-kehebatan dirinya.Memberi nasihat.Melarang ini, melarang itu. Kadangkala ia mengulang cerita-cerita yang sudah sering diceritakannya. Sebal! Perasaan itu yang sering kurasakan akhir-akhir ini.

Aku tidak betah tinggal di rumah kos. Sepulang kuliah lantas aku singgah di rumah teman, ke perpustakaan atau main-main ke suatu tempat.Lama-lama itu pun membosankan.

Pindah rumah? Menyewa kamar di lain tempat agar tidak lagi bertemu dengan Mas Ngidu? Itu juga tak mungkin.Aku telanjur menyukai kamar yang kusewa. Sejuk! Tidak terlalu bising, tapi juga tidak jauh dari pusat kota Yogyakarta. Selain dekat dengan kampus, untuk belajar pun sangat tenang. Tentu saja sebelum Mas Ngidu datang!

Ketika TVRI usai menyiarkan Dunia dalam Berita, aku baru pulang.Mas Ngidu menyambutku.Rupanya dia sudah lama menunggu.

"Praktikum, kok, sampai jauh malam begini?"

"Ya!" jawabku sambil membuka pintu kamar.Cepat-cepat kukatakan bahwa aku lelah sekali.Maksudku agar Mas Ngidu tidak ke kamarku.

"Tidurlah, Dik Anwar! Rupanya kau menemui kesulitan ketika praktikum tadi.Kau memang tampak letih," katanya penuh perhatian."Lain kali kalau mendapatkan kesulitan dalam praktikum atau berhubungan dengan biologi, jangan malu-malu bertanyalah kepadaku!"

"Ya, ya, yaaa!" jawabku seperti menirukan iklan KB.

Dengan aman aku tiduran.Geli rasanya membayangkan rencana yang kubuat bersama Diah di Balairung Gedung Pusat, seusai Diah kuliah. Suatu rencana yang akan kami lakukan atas diri Mas Ngidu agar ia tidak terlalu menggangguku dengan cerita-ceritanya. Tapi, bagaimana kalau gagal? Ah, mudah-mudahan berhasil. Memang, sebetulnya kami tak tega. Namun, apa boleh buat!

* * *

Suatu pagi hari Jumat, Diah datang dengan keadaan sangat panik.Sejenak berbicara denganku, kemudian pergi lagi dengan tergesa.Aku terlongong-longong dibuatnya.

"Apa yang terjadi dengan Diahmu itu.Tampaknya ia panik sekali?"Tiba-tiba Mas Ngidu sudah di muka pintu kamarku.

"Gawat, Mas!!"

"Kenapa?"

"Dia…dia terlambat."

"Nah, apa kataku? Dia terlambat datang bulan, kan? Sebagai mahasiswa kalian sudah bergaul terlalu intim.

Dik Anwar pun ternyata mengabaikan nasihatku.Kasihan orang tuamu kalau begini.Juga kasihan kota ini karena akibat ulah orang-orang seperti kalian, maka kota kita ini dikiranya pusatnya kumpul kebo."Mas Ngidu marah-marah.

Aku menunduk pucat.

"Namun, keterlambatan belum tentu bahwa dia pasti hamil, kan, Mas?"Aku takut sekali.

"Nanti mintalah urine Diah, biar kuselidiki!" perintahnya tanpa menjawab pertanyaanku.

"Kebetulan Diah juga sudah membawa.Itu dalam botol kecil."

Mas Ngidu segera ke laboratorium. Sebuah botol kecil berisi air kencing berada dalam tas yang dibawanya. Di rumah aku menanti hasil penyelidikan Mas Ngidu. Membaca koran kampus sambil mendengarkan Slow Rock Memory.

"Bangun, Dik Anwar, bangun!" Mas Ngidu mengambil koran yang menutupi wajahku.

Aku segera duduk. Jam duduk di atas meja menunjuk angka sebelas lebih.

"Bagaimanapun kau harus berani bertanggung jawab!" desis Mas Ngidu sambil menatap tajam wajahku.

"Kenapa, Mas?’

"Tadi sudah kuselidiki.Hasilnya positip.Berarti Diah hamil!"

"Ah. Apakah Mas Ngidu tidak keliru?"

Mas Ngidu tertawa terbahak.Dengan nada mengejek dia berkata, "Tiga tahun lagi umurku empat puluh. Aku bekerja di laboratorium sejak usia dua puluh tiga.

Rupanya kau lupa, profesor yang disegani dokter-dokter sangat memercayaiku.Mana mungkin aku keliru?"

"Jadi….Diah benar-benar hamil?"Aku tergagap-gagap.Pucat.

"Ya!Aku pekerja laboratorium yang berpengalaman.Tidak mungkin aku keliru," katanya bangga. "Dik Anwar, kau tak perlu menyesal. Itulah akibatnya kalau kau menyepelekan semua nasihatku!"

Tawa Mas Ngidu meledak lagi ketika ia melihat wajahku semakin pucat. Mungkin dikiranya aku takut dengan kehamilan Diah.Seandainya itu yang terjadi dan memang aku penyebabnya, tentu saja aku berani bertanggung jawab.Siapa takut?Akan kulamar Diah untuk menjadi istriku. Itu pasti!

Namun, yang kutakutkan adalah hasil penyelidikan Mas Ngidu.Positip?Berarti hamil? Sungguh fantastis! Padahal botol kecil yang kuberikan kepada Mas Ngidu jelas berisi air kencingku.

Sama sekali bukan milik Diah! Ah, dapatkah laki-laki seperti diriku ini hamil? He he he.Aku geli.Tak dapat berpura-pura lagi.

Setelah kuberitahukan hal yang sebenarnya, tawa Mas Ngidu terputus.Dia pucat seketika.Namun, akhirnya kami tertawa bersama-sama.Sejak saat itu Mas Ngidu tak pernah membual lagi.

Kamis, 20 Maret 2014

ANTARA CINTA DAN PERSAHABATAN


Jam dinding sudah menunjukkan 5.14.Aku segera berangkat ke sekolah,aku bersekolah di SMA NEGERI 2 di daerah Jombang.Aku termasuk anak yang pendiam dan pintar.Aku punya teman yang bernama Diky,ia adalah sahabat terbaikku,kami berdua sering membicarakan tentang cinta.Hingga di suatu hari Diky bercerita kalau dia menyukai seorang perempuan cantik yang bernama Putri,Putri adalah sahabat terbaikku juga,jadi memberitahu Putri bahwa Diky menyukainya.Putri juga pernah bercerita kalau ia dulu juga mencintai Diky,jadi aku memberiahu Diky kalau Putri juga mencintainya.Tanpa berfikir lama lagi Diky pun langsung menembak Putri.Hingga akhirnya mereka berdua jadian. Hari demi harimereka lalui dengan penuh rasa kasih saying,dan penuh dengan kemesraan,bila mereka berdua ada masalah,aku selalu memberi masukan dan solusi,hingga hubungan mereka kembali rekat lagi.
       Setelah tiga tahun kemudian,aku dan teman sekolah mengadakan suatu perpisahan,perpisahan sekolah terasa sangat senang hingga kita semua sampai lupa waktu,hingga sore perpisahan pun belum selesai,adzan magrib terdengar sedang berkumandan,kami semua segera bergantian mengambil air wudhu,setelah aku selesai wudhu,aku pun  langsung mengambil microphone untuk mengumandangkan adzan magrib.
      Setelah selesai sholat kami semua berpamitan kepada guru-guru kami,dan meminta doanya,agar kami semua bias mencampai ke jenjang sekolah yang lebih tinggi dan mencapai cita-cita kami.Kami smua pun segera pulang ke rumah masing-masing dengan rasa bahagia dan capek.
     Jam berputar dengan cepat hingga tidak terasa bahwa teman-teman harus mencari sekolah keju ruan yang kami inginkan.Akupun mengajak Diky ke sekolah yang aku inginkan,akan tetapi Diky tidak mau,karena ia kasihan dengan orang tuanya yang tidak sanggup membiayainya,Diky masuk ke sekolah yang agak relatif  murah,yang biaya nya dapat dijangkau oleh kedua orangtuanya.
Aku memilih ke sekolah yang aku inginkan.Pertama kali masuk terasa seperti mimpi.Dari dulu aku memang ingin masuk ke sekolah kejuruan.Aku memilih Teknik Komputer dan Jaringan atau TKJ.Aku memang suka bidang elektronik.
Setelah lama tidak bertemu dengan sahabatku Diky,aku pun pergi main ke rumahnya setelah pulang dari kampus.Setelah sampai di rumahnya Diky,Diky bercerita banyak tentang  hubunganya dengan Putri.Ia bercerita bahwa mereka sudah kandas di tengah jalan.Aku pun turut prihatin atas semua kejadian yang di alami oleh Diky.
Sepulang dari rumahnya Diky,aku menuju ke rumahnya Putri,aku bertanya ke Putri ”menganpa hubungan kalian berdua bisa kandas di tengah jalan???”,Putri menjawab “sebenarnya dari dulu aku tidak pernah mencintai Diky,tapi aku mencintai kamu”.Aku pun terkejud dengan ap yang diucapkan Putri.Aku menjawab semua perkataan itu dengan lembut. ”Aku sebenarnya juga mencintai kamu Put,tapi aku memendam rasa itu karena aku tahu kalau sahabatku sendiri juga mencintai kamu…”
    Setelah perbincangan itu aku pun dan Putri menjalin sebuah hubungan.Hubungan kami sangat istimewa,karena tidak ada masalah sedikit pun.Setelah 1tahun berjalan,Diky mengetahui kenapa Putri memutuskan untuk pisah dengannya.Diky pun marah kepadaku sepanjang hari aku selalu minta maaf  kepadanya akan tetapi ia masih marah  dan tidak mau memaafkan aku.
       Satu tahu kemudian,ia pun mau memaafkanku dan melupakan semua yang terjadi,aku sangat merasa senang dan bahagia.Aku juga bercerita bahwa hubunganku dengan Putri sudah kandas di tengah jalan,Diky berkata kepadaku’ “jangan bilang kalau gara-gara aku hubungan kalian kandas ditengah jalan,aku tidak bermaksud untuk menghancurkan hubungan kalian berdua,tapi aku memang sangat marah dan kecewa dan Putri”,aku menjawab pertnyaan itu…”santai aja brow,bukan gara-gara kamu kok,tapi  memang kami sudah tidak ada kecocokan lagi…”
Sutu hari,Diky bercerita kepadaku kalau ia sedang naksir dengan seorang temannya yang bernama Ayu.Aku sangat mendukung usaha Diky untuk medapatkan Ayu.Setelah aku dikenalin dengan Ayu,kami jadi sering ketemu dan jalan bareng. Hingga kedekatan aku dengan Ayu semakin dekat,rasa cinta mulai tumbuh diantara kami berdua.Tapi aku mulai sadar kalau aku tidak boleh melakukan kesalahan lagi,aku tidak mau Diky marah besar lagi kepadaku.
      Aku berusaha untuk menjauhi Ayu,akan tetapi Ayu masih mencariku,hingga aku kasihan padanya.Malam harinya aku main ke rumah Ayu,ternyata Ayu sedang menangis di dalam kamarnya,aku secara diam masuk ke kamarnya,dan berusaha untuk menenangkannya.Aku tidak kuasa menahan rasa kasihanku,tiba-tiba Ayu memelukku dengan kencang,sambil menangis dan berkata,”aku tidak mau kehilangan kamu,jadi kamu jangan pernah meninggalkan aku lagi su…”.Karena terhanyut aku dan Ayu tidak sadar,kalau Diky dari tadi sudah datang ke rumah Ayu.
      Aku pun berusaha melepaskan tangan Ayu dari pelukanku,akan tetapi Ayu masih saja memelukku dan tidak mau melepaskan aku.Diky lari keluar rumah sambil menangis dan mengusapkan kata-kata kepadaku,”dasar,bajingan kamu,katamya sahabat tapi apa… ?,kamu mengambil semuanya dariku”.
      Terdengar suara motor yang sangat kencang,ternyata Diky dangan rasa emosi ia melajukan motornya dengan sangat kencang,hingga di tikungan jalan juga terdapat truk yang melaju dengan kencang.Tabrakan pun tidah dapat di hindari.Diky meninggal di tempat ejadian itu.Aku sangat menyesal dengan apa yang aku perbuat selama ini,kematian Diky itu gara-gara aku.
      Hingga akhirnya aku menyimpulkan semua itu bahwa,”sahabat itu lebih penting dari pada cinta,dan juga seorang sahabat sejati itu sangat sulit di cari…jadi jangan pernah menyianyiakan seorang sahabat sejati…”.

Kisah Si Katak Kecil Yg Ketakutan


Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.
“Anakku,” ucap sang induk kemudian. “Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.” jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.
“Anakku. Itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.
“Blarrr!!!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!” ucapnya sambil terus memejamkan mata.
“Sabar, anakku!” ucapnya sambil terus membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang.
Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, “Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”
***
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.
Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.
Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu suatu saat pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.
Semoga Kita Bisa Mengambil Hikmah Dari Cerita Di Atas.
sumber: kaskus