Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Sufi: Raja Sejati


KH. Jalaluddin Rakhmat

Salah seorang “bintang” sufi terbesar dalam sejarah bernama Abu Ali Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Ia lebih terkenal dengan nama Fudhail . Fudhail semula adalah seorang perampok yang merampas harta orang-orang di pertengahan jalan. Ia seorang highway man yang merampok pejalan yang sedang berdagang antara Merf dan Baward. Yang menarik dari Fudhail ialah bahwa di tengah kejahatan yang ia lakukan, ia lebih memilih untuk merampas harta benda orang yang kaya. Ia tak pernah mengambil harta benda orang yang miskin. Ia juga sering membagikan kekayaan yang dirampoknya untuk membantu orang miskin. Fudhail bin ‘Iyadh adalah sejenis Robin Hood di masa lalu.
Pada suatu saat, Fudhail mencegat satu rombongan orang. Salah seorang yang dihadangnya kebetulan seorang pembaca Al-Quran dan ia sedang membaca ayat: Apa belum datang masanya bagi orang yang beriman agar hati mereka takut kepada Tuhan? (QS. ) Hati Fudhail menjadi lembut. Dia tinggalkan pekerjaan yang selama ini ia geluti. Ia kembalikan barang-barang yang pernah dirampoknya kepada orang-orang yang masih dia kenali. Kemudian Fudhail berguru kepada Imam Abu Hanifah untuk belajar hadis, ulumul Quran, dan fiqih. Kelak, dia pun dikenal sebagai salah seorang perawi hadis di dalam Shahih Bukhari. Dalam fiqih, dia mengikuti mazhab Abu Hanifah. Dan dalam tasawuf, dia mengikuti tradisi para sufi sebelumnya.
Yang akan saya ceritakan pada tulisan ini adalah pertemuan Fudhail dengan penguasa saat itu, Harun Al-Rasyid. Fadhl bin Rabi’ mengisahkannya untuk kita: Aku menyertai Harun Al-Rasyid ke Mekkah. Setelah kami melaksanakan ibadah haji, Harun berkata kepadaku, “Ya Fadhl, apakah di sini ada hamba Allah yang bisa aku kunjungi?” Aku menjawab, “Ya. Namanya Abdul Razak Al-Shan’ani.” Kami pergi ke rumahnya dan berbincang sebentar lalu kami pamit. Harun menyuruhku bertanya kepadanya apakah ia punya utang-utang. Ia menjawab, “Ya.” Dan Harun memerintahkan agar utang-utang itu dibayar. Setelah berada di luar, Harun, sang khalifah, berkata kepadaku, “Fadhl, aku masih ingin bertemu orang yang lebih besar daripada orang ini.” Lalu ia mengajakku menemui Sufyan bin Uyainah. Pertemuannya berakhir sama seperti peristiwa sebelumnya.
Harun berkata, “Aku ingat bahwa Fudhail bin ‘Iyadh ada di sini. Marilah kita pergi menemuinya.” Kami pun menjumpainya di kamar atas sedang membaca ayat suci Al-Quran. Ketika kami mengetuk

Takwa dalam Al-Quran


Al-Tanwir No. 181 - Edisi: 25 Februari 2001/ 2 Dzulhijjah 1421 H

KH. Jalaluddin Rakhmat

Orang yang takwa dalam Al-Quran adalah manusia ideal, kekasih Tuhan. “Ketahuilah, sungguh para kekasih-Nya itu adalah orang-orang yang takwa.” (QS. Al-Anfal; 34) Ibadat diwajibkan agar orang menjadi takwa. Derajat manusia ditentukan oleh ketakwaannya. Sebagian arifin berkata: Sesungguhnya kebaikan dunia dan akhirat dihimpunkan dalam satu kata; takwa. Karena itu, banyak ayat Al-Quran yang menjanjikan segala kebaikan –duniawi dan ukhrawi, lahir dan batin- untuk orang yang takwa. Sayyid Qasim Syubbar[1], secara singkat mendaftar 12 keutamaan orang takwa:
Pujian dan penghargaan dari Allah swt: “Jika kamu bersabar dan bertakwa maka demikian itu termasuk perkara yang sangat menentukan.” (QS. Ali Imran; 186)
Penjagaan dan pemeliharaan: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, tidak akan memperdayakan kamu tipuan mereka sedikit pun.” (QS. Ali Imran; 120)
Bantuan dan pertolongan: “Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang takwa.” (QS. Al-Nahl; 128)
Jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki yang halal: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah jadikan baginya jalan keluar dan Allah beri dia rezeki dari tempat yang tidak terduga.” (QS. Al-Thalaq; 2-3)[2]
Memperbaiki amal: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlan ucapan yang benar. Nanti Allah memperbaiki amal-amal kamu.” (QS. Al-Ahzab; 70-71)
Ampunan dosa: Setelah ayat di atas “dan mengampuni dosa-dosa kamu”.
Memperoleh dan memastikan kecintaan Allah: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang

Tazâhum: Solusi untuk Aborsi


Jalaluddin Rakhmat



Malam itu, dengan berurai airmata,  seorang gadis  -sebut saja Belia- melaporkan kehamilan kepada kedua orang-tuanya.  Mereka  terkejut,  marah, dan bingung.  Mereka lebih bingung lagi ketika tahu anaknya diperkosa  kemanakannya yang disuruh menjaga gadis itu.  Dapatkah Anda memberikan nasehat praktis bagi orang tua yang malang itu? Nasehat praktis, bukan khotbah panjang tentang akibat dekadensi moral dan  globalisasi?

            Di tempat yang lain,  seorang  gadis -sebut saja Dara- ditemukan secara tidak sengaja sudah hamil  lebih dari tiga bulan.  Ia masih murid sekolah menengah.  Ia mengaku terus-terang  bahwa semuanya terjadi karena pergaulan bebas. Ia tidak tahu siapa yang menghamilinya.  Mestikah ia meneruskan kehamilan itu dan meninggalkan sekolahnya? Mestikah ia memilih salah satu “partner” dan menikah dengannya?  Jika ia menjawab “ya” untuk kedua pertanyaan itu,  sudah siapkah mereka memikul tanggung-jawab keluarga? 

            Kedua kasus ini terjadi dalam dunia nyata di sekitar kita. Inilah peristiwa “children having children”,  anak-anak yang sudah mengandung anak-anak. Untuk kasus pertama kita  turunkan  penjelasan Dr A.F Mohsen Ebrahim,  dosen studi Islam di Universitas Durban Westville, Afrika Selatan (Aborsi Kontrasepsi dan Mengatasi Kemandulan, Mizan, 1997)      

Tindakan Kekerasan terhadap Anak-anak


KH. Jalaluddin Rakhmat.        


Dahulu ketika saya murid SMP kelas satu, saya punya teman dua atau tiga tahun lebih muda.  Ia tinggal bersama ayah tirinya. Saya tidak tahu apakah ia bersekolah atau tidak; tetapi ia sering meminta saya membacakan buku-buku cerita.  Ketika semua buku cerita sudah habis saya baca,  saya menyarankan dia untuk membeli buku cerita baru, terjemahan Les Fables dari Jean de la Fontaine. Kalau tidak salah, buku itu diterbitkan Balai Pustaka.

            Sebetulnya saya pun ingin membeli buku itu, tetapi saya tidak punya duit untuk itu.  Saya melihat buku itu di toko buku yang  tidak jauh dari tempat tinggal saya. Pada suatu sore, dengan gembira ia membawa buku itu. Saya heran ia mampu membelinya; padahal saya tahu ia berasal dari keluarga yang sangat sangat miskin.  Karena cerita di situ berupa puisi, saya bukan saja membacanya tetapi juga menguraikan maknanya. Tampaknya ia sangat bahagia.

            Beberapa hari ia tidak datang. Saya merasa kehilangan juga. Di pasar, saya melihat kawan kecil saya itu. Ia sedang lari tunggang langgang. Orang-orang berteriak, “Copet, copet!”  Jantung saya berdegup  keras. Saya berdoa mudah-mudahan ia tidak tertangkap.  Saya memejamkan mata, kuatir doa saya tidak dikabulkan. Saya mendengar jeritan keras.  Ketika saya membuka mata saya, saya melihat kawan kecil saya sedang dipukuli orang banyak.  Saya lari  dengan membawa hati yang teramat pedih.

Wasiat Nabi SAW kepada Ali ra.



IBNU ABBAS radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Ali bin Abu Thalib berkata : " Pada hari perkawinanku dengan Siti Fatimah , Rasulullah SAW telah bersabda kepadaku , beliau telah mengutarakan tiga belas wasiat khusus untukku :

Hai Ali , takutlah engkau apabila memasuki tempat mandi ( hammam ) tanpa memakai kain separas pinggang.
Bahwasanya barangsiapa memasuki tempat mandi tanpa kain separas pinggang, maka dia mendapat laknat. di jari telunjuk dan di jari tengah

Hai Ali, janganlah engkau memakai cincin di jari telunjuk dan di jari tengah . Sesungguhnya itu adalah apa yang dilakukan oleh kaum Luth.

Hai Ali sesungguhnya Allah mengagumi hambanya yang melafazkan istighfar; " Rabighfirli fainahu Iayaghfirul-zunuba illa Anta " ( Tuhanku ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampunkan dosa melainkan engkau ). Allah lalu berfirman ," Hai malaikat Ku, sesungguhnya hamba-Ku ini mengetahui bahwasanya tiada yang mengampunkan dosa melainkan Ku. Hai malaikat-Ku , jadilah saksi bahwasanya Aku telah mengampunkan dia".

Hai Ali, takutlah engkau dari perbuatan berdusta. Bahwa berdusta itu menghitamkan muka dan disuratkan oleh Allah sebagai kazzab (pendusta). Dan, bahwa benar itu memutihkan muka dan disuratkan oleh Allah sebagai sadiq. Ketahuilah engkau, bahwasanya sidiq (benar) itu berkat dan kazzab (dusta) itu celaka.

Waspadai Fitnah Terhadap Orang-Orang Mukmin


Publikasi 26/07/2004

hayatulislam.net - Tak ada perjuangan tanpa ancaman dan tantangan, bahkan hambatan dan gangguan. Rasulullah Saw, manusia yang paling baik akhlaknya, yang paling baik tutur kata serta budi bahasanya, manusia yang senantiasa dibimbing wahyu dalam seluruh sikap, kata, dan perbuatannya, yang menjadi teladan seluruh umat manusia, tidak luput dari hal tersebut.

Beliau yang telah mendapatkan gelar Al Amien (Orang yang terpercaya) ini suatu ketika mengumpulkan suku-suku dan keluarga Quraisy di bukit Shafa. Beliau berkata kepada mereka: “Jika kalian kuberitahu, bahwa di lembah sana terdapat pasukan berkuda hendak menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?

Mereka menyahut: “Ya, kami belum pernah menyaksikan anda bedusta.

Beliau Saw kemudian melanjutkan: “Sesungguhnya aku datang untuk memberi peringatan kepada kalian, bahwa di depan kalian terdapat sisksa yang amat keras!

Mendengar itu Abu Lahab berteriak: “Celakalah engkau selamanya! Untu itukah mengumpulkan kami?” (lihat Muhammad Al Ghazaly, Fiqhus Siirah, terj. Hal 170).


Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah Saw mendatangi orang-orang di rumah-rumah dan pasar-pasar mereka menyampaikan kalimat: “Katakanlah Lailaha-illallah nisacaya kalian akan sukses!” Setiap kali Rasulullah Saw keluar menyampaikan dakwahnya, Abu Lahab senantiasa

TAHAJUD


Oleh: Zschaiynuddin (zen) + maha benar + tuhan

Malam hari dimana kebanyakan seluruh aktifitas pada berhenti, keadaan tersebut menyebabkan suasana menjadi hening, sunyi dan tenang. Kondisi eksternal ini sangat menunjang konsentrasi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Disamping kondisi eksternal kita juga dapat meraih kondisi internal yaitu suatu kondisi ketenangan, kedamaian yang dapat dirasakan oleh psikis seseorang.

"Dan pada sebagian malam hari hendaklah kamu shalat tahajud sebagai  tambahan bagimu, mudah-mudahan Allah memberi engkau kedudukan yang tinggi dan terpuji" (al-isra':79).

 Wahyu inilah yang menjadi salah satu sebab disyariatkanya shalat tahajud. Bahkan rasul pun menganjurkan pentingnya shalat tahajud. Ketika rasul ditanya oleh sahabat:

"apakah shalat yang lebih utama selain dari shalat farhdu yang lima"? rasul menjawab: "shalat malam (tahajud)" HR. muslim.
           
Shalat tahajud mengandung dimensi dzikrullah yang berdampak pada psikologis jiwa seseorang yang merupakan inti menyebabkan hati seseorang menjadi tenang.

"orang-orang yang  beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang"(arra'du:28).

SURGA = MAHLUK


Oleh: zainuddin (zen + al-haq + tuhan)
Refleksi HATI

Surga itu bukanlah puncak pencapaian dari orang yang berbuat baik. Manusia itu lebih tinggi derajatnya dari apapun karena ahsanu taqwim master piz-nya allah itu manusia. Jadi tidak mungkin manusia mengejar-ngejar sesuatu yang sebenarnya tidak lebih tinggi derajatnya dari manusia. Jadi manusia ini adalah masih dianggap mahluk tuhan yang rajin beribadah suka umroh apalagi yang koruptor dan korupsi. Maskipun tidak dibalik "sangat sukar menemukan koruptor yang tidak naik haji". Jadi orang yang akan masuk surga pertama adalah orang yang suka rajin beribadah, tapi itu surganya dikelas ekonomi rendah. Tapi kalau anda ingin berada dikelas yang lebih tinggi anda harus selalu rajin dan selalu siap melakukan apa saja baik dalam bentuk beribadah atau pun bekerja harus senantiasa mencari ilmu maka anda akan mendapatkan derajat yang tinggi (surga) jadi selalu mencari ilmu, selalu menganalisis, selalu memaknai selalu meneliti, dan selalu memiliki tradisi menemukan makna nilai disetiap benda,disetiap apa saja yang anda temukan, disetiap yang anda liahat dan disetiap apa yang dilakukan. Tapi jika anda ingin yang lebih tinggi lagi anda tidak hanya beribadah, bukan hanya mencari ilmu, tapi anda juga harus menjdi pekerja keras.  Barang siapa melakukan pekerjaan yang baik dengan lebih keras Famai yakmal amalan shalihan  maka dia bukan hanya mendapatkan surga. kerna surga kecil baginya, dia mendapatkan tempat tersendiri dimana dia hidup bersama allah dan dibukakan wajahnya allah. Nah bangsa kita ini baru bangsa tingkat pertama yang rajin beribadah yang bikin senitron yang direjili-rejilikan. Soal tingkat kedua ilmu kita masih sangat rendah kalao sudah bicara di kenduri cinta karena ngomong liberalisme katanya kita ini kaum pluralis libralis, tapi kalau baca solawat kita ini di anggap islam exklusiv, jadi maksudnya ilmu kita ini  yang masih lineir cara berpikirnya di tengah 4 cara berpikirnya linier,siksak, spiral dan sirkular atau siklikal atau kafah dalam islam. Saya itu bukan liberal tapi saya ini radikalis dibidang saya harus radikal. Ya kalau sunnatan ya radikal masak liberal. Masak orang sunnaatan bebas dipotong mana saja ditengah kan gak mungkin. Makanya kita jangan ikut-ikutan pikiran siapa siapa, kita ikuti aja pikiran kita yang orsinel saja. Kita itu harus berpikir nalar dan lebih maju. Jangan ikut-ikutan.

PESANTREN DAN TRANSFORMASI GLOBAL


Oleh
Z4inuddin


I.       Pendahuluan
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelaksanaan pendidikan di Indonesia adalah merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Masyarakat harus ikut terlibat dalam upaya menghidupkan kecerdasan bangsa ini, tidak hanya dari segi materi dan moril saja, namun masyarakat juga harus mampu memberikan sumbangsih yang signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Tujuan semacam inilah yang kemudian memberikan roh-dasar bagi berdirinya lembaga-lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta, sebagai wujud dari penyelenggaraan pendidikan masyarakat.
Salah satu lembaga pendidikan yang hendak dibahas dalam tulisan ini adalah pesantren yang merupakan Indonesian Indeginous Culture dan Indonesian Indeginous System of Education, yang hanya ada di Indonesia dan tidak di negara lain.

II.    Pesantren: Perjalanan Historis
Lembaga Pendidikan Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua khas Indonesia yang secara khusus menitik-beratkan pada pendidikan agama Islam dalam segala aspeknya. Awal berdirinya pendidikan Pesantren hampir dapat dipastikan sejalan dengan masuknya Agama Islam dan penyebaran Islam di Indonesia atau sekitar 600 tahun yang lalu.

PESANTREN DALAM PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI


oleh
_________________________


Pada dasarnya setiap lembaga pendidikan memiliki tujuan dan cita-cita mulia yakni mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan menyiapkan generasi penerus yang memiliki ilmu pengetahuan. Begitu juga halnya dengan pesantren, ia juga memiliki tujuan dan cita-cita yang sama yakni mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan menyiapkan generasi penerus yang memiliki ilmu pengetahuan. Hanya saja, pesantren memiliki titik tekan yang lebih terhadap pengetahuan keagamaan yaitu pengetahuan agama Islam. Namun yang menjadi persoalan sekarang ini adalah munculnya fenomena komersialisasi dunia pendidikan. Fenomena komersialisasi dunia pendidikan ini ditandai dengan bermunculannya lembaga pendidikan yang lebih mengedepankan profit oriented. Inilah yang menjadi keprihatinan kita bersama. Kita tidak sadar bahwa sekarang ini ada upaya kapitalisme global yang tengah menyusup kedalam dunia pendidikan. Persoalan tersebut harus benar-benar diantisipasi oleh lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan yang berbasis nilai-nilai keislaman seperti pesantren. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam, yang cukup teruji mampu menghadapi berbagai perkembangan zaman, harus benar-benar menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan global tersebut. Upaya pesantren dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan global tersebut dapat berwujud pada sistem, metode dan model pendidikan yang mampu untuk mencetak lulusan yang siap menghadapi perkembangan zaman.
Dengan tujuan tidak ingin membanding-bandingkannya dengan lembaga-lembaga lain, pesantren memiliki spesialisasi dan spesifikasi model pembelajaran tersendiri dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan lain. Sejalan dengan itu, sudah tentu juga pesantren memiliki kelebihan dan dan kelemahan tersendiri. Salah satu kelebihan pesantren terletak pada basis pembelajarannya yang berbasis nila-nilai keIslaman, sehingga pesantren diakui sebagai penjaga moral umat dan pengawal kelestarian ajaran agama Islam. Dengan kelebihan ini, pesantren dapat menjadi penerus dakwah Islamiyah demi tersebarnya ajaran Islam kepada seluruh elemen bangsa. Namun begitu, memang harus jujur dan harus kita akui bahwa pesantren masih memiliki beberapa kelemahan, diantaranya pada sistem. Sistem tersebut terkait dengan manajemen, pengasuh (kiai), tenaga pengajar, santri, kurikulum, model dan metode pengajaran serta berbagai hal lainnya. Kelemahan sistem inilah yang selalu dipertanyakan oleh berbagai kalangan, sehingga mengesankan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak mampu merespon perkembangan zaman. Meski demikian, kita juga harus berbangga karena sekarang sudah mulai bermunculan pesantren yang menerapkan sistem modern dan mengaplikasikan kurikulum, metode dan model pengajaran yang mampu merespon perkembangan dan kemajuan IPTEK.

NILAI PENDIDIKAN DI BALIK AYAT-AYAT PENCIPTAAN MANUSIA



A. ASAL-USUL KEJADIAN MANUSIA

Sejak awal kehadirannya, Islam telah memberikan perhatian yang amat besar terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran dalam arti seluas-luasnya.  Hal ini antara lain dapat dilihat pada apa yang secara normatif-teologi ditegaskan dalam Alquran dan Assunnah, dan pada apa yang secara empiris dapat dilihat dalam sejarah.  Secara normatif-teologis, sumber ajaran Islam, Alquran dan Assunnah yang diakui sebagai pedoman hidup yang dapat menjamin keselamatan hidup di dunia dan akhirat, amat memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan.
Alquran melihat pendidikan sebagai sarana yang amat strategis dan ampuh dalam mengangkat harkat dan martabat manusia dari keterpurukannya sebagaimana dijumpai di abad jahiliyah.  Hal ini dapat dipahami karena dengan pendidikan seseorang akan memiliki bekal untuk memasuki lapangan kerja merebut berbagai kesempatan dan peluang yang menjanjikan masa depan, penuh percaya diri dan tidak mudah diperalat oleh manusia lain.
Sejalan dengan itu, Alquran menegaskan tentang pentingnya tanggungjawab intelektual dalam melakukan berbagai kegiatan.  Dalam kaitan ini, Alquran selain menganjurkan manusia untuk belajar dalam arti seluas-luasnya hingga akhir hayat mengharuskan seseorang agar bekerja dengan dukungan ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilah yang dimiliki.  Pekerjaan yang dilakukan tanpa dukungan ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilan dianggap tidak sah, bahkan akan

NIKMATI PROSES


**Z@inuddin**

Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu ALLOH yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah ALLOH SWT.

Sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi KITA, karena menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting bagi KITA adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLOH dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.

Ketika jualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, karena uang itu ada jalurnya, ada rizkinya dari ALLOH dan SIAPAPUN pasti mendapatkannya. Karena kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang didapat, maka akan gampang sekali bagi ALLOH untuk memusnahkan untung hanya dalam waktu sekejap. Dibuat musibah, dikenai bencana, hingga akhirnya semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika.

JADI yang terpenting dari ikhtiar yang dilakukan adalah prosesnya. Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses mencari nafkah adalah dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara uang sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena ALLOH Mahatahu kebutuhan kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani.

MANUSIA MAHLUK PELUPA


By: Zschainuddin
           
            Kata al-insan adalah kata bentuk tunggal dari jama' an-anas yang berarti lupa, dan  naasah yang berarti bergerak. Kata lupa mengambarkan kondisi riel psikis seseorang ketika ia lupa atau tidak ingat terhadap sesuatu. Seorang murid atau siswa tidak ingat bahwa ia punya pekerjaan rumah atau tidak ingat pada pelajarannya. Sehingga ketika ujian ia tidak bisa mengerjakan ujianya dengan baik. Seorang ibu tidak ingat pada titipan anaknya untuk dibelikan mainan. Seorang karyawan lupa pada tugasnya yang harus diselesaikannya. Seorang politik lupa pada janji-janji yang pernah disampaikan pada waktu kampanye.
            Lupa bisa disebabkan alam tak sadar, atau oleh kesibukan baru. Suatu perbuatan yang dikerjakan secara tidak sadar sering membuat seseorang mudah lupa atau tidak ingat sama sekali dimana ia meletakakan kacamata. Pada umumnya hal ini besa terjadi karena ia terlalu disibukan dengan pekerjaan tertentu dan bekonsentrasi penuh pada pekerjaan itu sehingga perbuatan meletakan kaca mata tidak masuk kedalam alam sadar.
            Ditengah-tengah kesibukan yang menyita semua perhatian itu dia meletakan kaca mata. Dan ketika ia membutuhkannya dia malah lupa dimana meletakanya. Ini bisa jadi ia marah meskipun ia sendiri yang meletakanya. Lalu atas perbuatannya sendiri bisa menimbulkan amarah. Apalagi jika seseorang dilupakan oleh orang lain yang sebelumnya mengakarabi dengan janji-janji.  

Di Kafe Kusimpan Kenangan Cinta


                                        Oleh Oxy

Jadian plus Kencan Kugelar di Sana
Sejak ditinggal pergi Rangga ke AS, saban tahun sekali Cinta selalu mampir bandara untuk mengenang perpisahannya dengan kekasihnya tersebut. Di tempat itu, Cinta hanya berdiri dan tersenyum sambil membayangkan hangatnya kecupan terakhir bibir Rangga.

Tidak mau kalah sama Cinta, mayoritas responDet (85,4 persen) juga ngaku punya tempat bersejarah. Tapi bukan di bandara. Paling banyak menyimpan memori manis bareng yayangnya di cafe (20,8 persen). Kedua, bioskop (13,5 persen) dan taman (13,5).

Tidak cukup satu tempat, sebanyak 28,7 persen menebar benih kenangan manis di dua lokasi. Yang bilang punya satu tempat cuman 22,9 persen, kemudian 19,1 persen ada tiga tempat.

Mau tahu seperti apa cerita mereka? Simak penuturan Helmy Yuniar di SMA Giki 2. "Jelas saja aku punya tempat kenangan sama pacar. Ada dua tempat istimewa, dan keduanya bikin aku teringat kembali semua kenangan indah dulu. Meski mungkin saja suatu saat nanti kami berpisah, aku yakin tidak akan pernah bisa melupakannya," bukanya.

Kedua tempat kenangan Helmy ada di kafe. "Tempat ini jadi favoritku untuk mengungkapkan sayang. Ngobrol dari hati ke hati dan menikmati imutnya wajah kasihku," paparnya.

Helmy punya alasan khusus mengapa ia memilih kafe sebagai tempat kenangan bareng pacar. "Nongkrong di kafe tidak perlu butuh banyak biaya. Pas untuk kantong pelajar. Karena inilah aku sering banget bikin acara ngedate di kafe," imbuhnya.

Kalau Nuh Abdi menyimpan benih kenangan bareng pacarnya di bioskop. "Di tempat itulah aku jadian dengan pacarku sekarang. Hingga kini ke bioskop ada perasaan aneh, malu campur bangga. Sebab, tempat itu jadi saksi bisu betapa gugupnya aku menyatakan cinta padanya," ujar anak Stikosa AWS ini.

Menurut Abdi, film Ada Apa Dengan Cinta? yang sedang ditontonnya memberikan inspirasi dan membuatnya nekad mengungkapkan rasa sayangnya. "Di tengah film, tiba-tiba muncul keberanian untuk menembak dia. Dan yang paling menyenangkan, ternyata aku diterima. Sungguh mengesankan," pungkasnya

Berbeda dengan yang lain, Dian Puspitasari malah menjadikan taman sebagai tempat kenangan bareng pacar. "Di Jember, kota asalku, ada sebuah taman yang menyimpan sejuta kenangan manisku bareng pacarku. Di tempat itu aku pertama kali ketemu pacarku," akunya.

Dian dan pacarnya punya tradisi merayakan semua kejadian penting asmaranya di taman tersebut. "Setiap anniversary jadian atau ultah salah satu dari kami, aku dan pacarku pasti merayakannya di taman tersebut," paparnya.

Dian juga bilang, yang bikin dia demen ke sana adalah suasananya. "Pemandangannya bagus dan hawanya segar. Kalau udah disitu, tidak terasa bisa sampai berjam-jam. Di malam hari, kami bisa melihat gemerlap lampu kota dan jutaan bintang di langit. Kami biasanya memilih saling diam dan menikmati semua itu. terkadang kami juga tertawa mengingat kejadian dulu," pungkasnya. (oxy)